Mengetik huruf Jepang di komputer

September 14, 2008 | Posted in Rants, Linux and OSS, IT Stuffs, Nihongo

Kill
Sebelum mengenal istilah Input Methods, untuk keren-kerenan (?) dulu saya suka copy paste tulisan Jepang dari berbagai situs, padahal mah gak ngerti artinya. Makin kesini meningkat, pake Wakan, yang punya segudang fitur termasuk kamus Jepang-English dan editor tulisan Jepang.
Sebenernya keyboard kita yang umumnya berlayout English-US bisa juga dipake untuk mengetik tulisan Jepang. Caranya adalah dengan menginstall dukungan untuk bahasa tersebut.

Untuk para pengguna GNU/Linux terutama Ubuntu ada banyak sekali alternatif input method ini. Salah satu yang didukung secara default adalah SCIM. Untuk mengaktifkannya pergilah ke menu System->Administration->Language Support. Kemudian centang pada pilihan bahasa Japanese. Secara otomatis Ubuntu akan menginstall dukungan untuk bahasa Jepang, termasuk font-nya. Tentu saja ada beberapa paket yang harus didownload, jadi pastikan komputernya terhubung ke internet.

Alternatif lain adalah UIM, ini adalah input method yang saya pake karena tidak bermasalah jika dipake input di aplikasi lain. Cara menginstallnya lumayan mudah, hanya perlu sebaris apt-get saja.
sudo apt-get install uim-applet-gnome uim-xim uim-anthy uim-gtk2.0 im-switch
Sesudah itu jalankan perintah
uim-pref-gtk
Tak lama kemudian akan muncul semacam applet UIM di systray
UIM Anthy
UIM sendiri menyediakan beberapa metode input, termasuk untuk bahasa lain. Untuk Japanese input, pilihlah Anthy. Saya set Anthy sebagai default input method.
Anthy
Untuk berpindah-pindah dari mode input direct ke mode kana atau sebaliknya tinggal tekan kombinasi tombol Shift+Space, atau pilih saja dari applet di systray. Untuk tulisan alphabet biasa bisa memakai direct input (symbol: -), untuk mode input dengan Hiragana symbolnya . Jika kita mengetik dalam hiragana, secara otomatis setelah mengetik suatu kata dan menekan space akan dikonversi ke Kanji. Cuman ya itu, suatu kata atau suku kata dengan hiragana yang sama, bisa saja kanji-nya beda dan artinya juga beda, jadi memang harus tau dulu Kanji mana yang dipake. Sayangnya di list Kanji yang diberikan UIM-Anthy tidak disediakan terjemahanya. Biasanya kalau ngetik di Firefox, saya aktifkan juga peraperakun untuk cek terjemahannya.
Oh iya, dalam mode Hiragana, kita ngetik seperti biasa ngetik dalam Romaji.

Tutorial yang lebih lengkap tentang cara install UIM di ubuntu, silahkan baca: Howto Japanese Input with UIM.
Untuk pengguna setia Windows (ataupun yang selingkuh), mudah saja menginstall IME ini. Baca saja sendiri ya caranya di: Installing and using Japanese IME

Kalau sudah terinstall ya tinggal lebih banyak nyoba nulis aja di lang-8.com ^^
Bagi yang malas install-install bisa nyoba Ajax IME, web based nih, tinggal buka browser aja.

がんばりましょう!

Mount noexec

June 7, 2008 | Posted in Rants, Linux and OSS

Tadi pagi ketika cek imel log dari server saya bingung kenapa gak ada laporan apapun dari OSSEC-HIDS. Pas dicek di server, ternyata memang itu daemon gak jalan. Heran, padahal udah diset autostart pas booting (server-nya emang habis restart gara-gara listrik mati :( ). Coba jalanin manual, eh malah ditolak, padahal saya udah pake root.

root@server: # /etc/init.d/ossec start
/etc/init.d/ossec: /var/ossec/bin/ossec-control: /bin/sh: bad interpreter: Permission denied

Lah bingung saya, padahal sebelumnya kan jalan normal. Coba googling, ketemu thread milis ini.
Jadi inget emang /var dan /tmp dimount dengan opsi noexec*, biar gak ada program aneh-aneh yang jalan disana :P
Akhirnya setelah jalanin:

# mount -o remount,exec /var

bisa juga tuh /etc/init.d/ossec yang manggil /var/ossec/bin/ossec-control dijalanin.
Setelah jalan tutup lagi aja opsi exec-nya pake,

# mount -o remount,noexec /var

Dulu gara-gara noexec ini sebenarnya pernah juga kejadian, yaitu pas jalanin apt-get. Ada paket-paket tertentu yang langsung jalanin script konfigurasi mereka di /tmp atau /var/tmp. Jadinya ya gak bisa. Untuk yang satu ini sebenarnya bisa ditambahin opsi di /etc/apt/apt.conf, sehingga menjadi

DPkg {
  Pre-Invoke  {"/bin/mount -o remount,exec /tmp";};
  Post-Invoke {"/bin/mount -o remount,noexec /tmp";};
  Pre-Invoke  {"/bin/mount -o remount,exec /var";};
  Post-Invoke {"/bin/mount -o remount,noexec /var";};
}

Semoga bermanfaat. cmiiw

*catatan: jika dan hanya jika /var dan /tmp punya partisi sendiri

Goosh: google shell

June 4, 2008 | Posted in Rants, Linux and OSS

Goosh: google shell
Satu lagi kerjaan orang iseng, menarik juga idenya. Setelah dulu ada jsuix. Eh sekarang ada yang bikin shell google, web based sih.
Coba-coba deh. Lebih enak makenya kalau terbiasa pake CLI. Udah lumayan lengkap pula, bisa image, blog sama video search, translate juga bisa. Bahan utamanya sepertinya adalah teknologi AJAX sama google API.
Silahkan coba goosh disini.

Kalau mau command line search engine yang beneran di Linux? Coba surfraw. Kita masukin command dari terminal, dan hasilnya dia buka bisa lewat GUI web browser atau text web browser (w3m, lynx dsb).
Di Ubuntu untuk menginstallnya tinggal: sudo apt-get install surfraw.

Setaun uptime

May 4, 2008 | Posted in Rants, Linux and OSS

Selamat!!! (tapi gak pake makan-makan yaaa)

~$ uptime
 20:10:36 up 365 days, 15:52,  1 user,  load average: 0.00, 0.01, 0.00

Sebenernya sih lebih dari setaun, cuman waktu itu entah kenapa server restart/mati. Bukan berarti ini server kuat, cuman karena loadnya termasuk santai aja, jadinya emang gak pernah restart, manteng aja terus. Maintenance-nya cuman apt-get update && apt-get upgrade doang.
Oh iya, setaun uptime ini belom ada apa-apanya, karena kalau lihat data statistik uptime server di netcraft, ada yang itungannya udah 4 taunan rata-rata uptime-nya. Dan tahukah server apa yang menempati top average uptime? Kaget juga saya pas lihat ternyata server Windows 2003 menempati urutan paling atas :D
Tapi menurut data The Uptimes Project, server/host yang memiliki uptime paling tinggi adalah WVNET VMScluster dengan rata-rata uptime 12 taun, wew.

Btw ini server masih pake Dapper Drake, upgrade ke Hardy gak ya?

My favourite linux commands

April 17, 2008 | Posted in Rants, Linux and OSS

As everyone else doing it…
On my laptop with Ubuntu 7.0.4

me@mylaptop:~$ history | awk '{a[$2]++}END{for(i in a){print a[i] \" \" i}}' | sort -rn | head
215 sudo
55 ls
47 cd
22 ssh
20 apt-cache
11 cat
10 df
9 ps
8 route
8 rename

On a server with Ubuntu 6.0.6:

me@aserver:~$ history | awk '{a[$2]++}END{for(i in a){print a[i] \" \" i}}' | sort -rn | head
104 ls
77 cd
27 sudo
24 last|head
18 screen
18 df
11 mv
11 less
8 tail
7 w

Yes, I’am too lazy typing those commands, and yes I’m a little bit worry about my disk space…

Terminator

December 27, 2007 | Posted in Rants, Linux and OSS

Have you ever felt tired pressing Alt+Tab just to see what happened on your debug window while you’re editing some config files? If so, then this terminator might be suitable for you.
Hmm what should I say… this is really cool! You can open as many teminal session as you like, all on one window.

If you use Gutsy then just grab the .deb packages. But no worries for loyal Feisty user (haha that’s me), just grab the source code from here, run dpkg-buildpackage -rfakeroot, and voilla you also got the .deb package!

via: Planet Ubuntu

Now, I’m thinking of getting a bigger screen to load all of those SSH session…

Menghapus baris komentar di file konfigurasi

December 21, 2007 | Posted in Rants, Linux and OSS

Komentar di file konfigurasi Linux/Unix -biasanya diawali dengan #- memang sangat membantu dalam proses memahami apa maksud dan tujuan dari suatu baris konfigurasi.
Namun jika terlalu banyak komentar dan contoh konfigurasi (misal radiusd.conf, squid.conf) dalam satu file saya bisa bingung sendiri nyari-nyari baris mana yang mesti diubah atau ditambahkan…

Makanya saya lebih suka membackup konfigurasi asli yang penuh komentar+dokumentasi untukdibaca dan memulai membuat konfigurasi baru yang bersih dan hanya memuat baris yang diperlukan saja.

Sebuah baris cantik yang didapat dari sini sangat membantu saya keluar dari keruwetan membaca konfigurasi freeradius.

cat /etc/freeradius/radiusd.conf | sed '/ *#/d; /^ *$/d'

Perintah diatas akan menghilangkan semua baris komentar yang diawali dengan # sekaligus menghapus baris kosong. Jadi yang didapat hanya konfigurasi default saja.

Selamat mencoba!

Sierra Aircard 875 bisa euy

October 10, 2007 | Posted in Rants, Linux and OSS

Setelah sempat ber-syak wasangka bahwa modemnya rusak, karena kalau dipasang di Ubuntu saya gak bisa detek jaringan operator (?). Indikator hanya nyala di bagian power, sementara modem-nya sudah dikenali dengan baik oleh driver sierra.
Secara modem sejenis punya temen saya tidak apa-apa ketika dipasang di Ubuntu ini, dengan SIMcard yang sama, wajar dong kalau saya berprasangka ada apa-apa dengan modem saya.
Tadinya sih ragu-ragu meng-klaim modem rusak, karena kadang-kadang indikator nyala kalau saya lagi coba-coba ngirim AT command via minicom. Cuman ya itu, random events, gak tau command mana yang bisa trigger dia bisa deteksi jaringan.

Settting modem sudah saya samakan (via minicom) dengan modem teman yang terbukti berjalan baik di Linux.
Pusing karena tidak mendapat pencerahan sore kemarin saya datang ke tokonya niatnya sih minta dituker.
Pas datang saya kasih tahu ini indikator LED untuk jaringan 2G maupun 3G gak mau nyala, kadang bisa nyala sih tapi cuman kalo lagi beruntung saja. Kalau indikator sudah nyala maka tidak masalah untuk dial apakah itu pake wvdial ataukah KPPP. Orang toko bilang wah di Linux gak bisa katanya. Gak bisa gimana wong saya pernah coba bisa kok. Akhirnya saya putuskan untuk suruh cobain di laptop Windows. Diinstalin program 3G Watcher sama InternationalNetworkSelection. Emang pertama kali sih di Windows juga lama deteksi jaringannya. Makanya dia pake manual scan pada program InternationalNetworkSelection itu. Tapi setelah disetting, save setting, kali kedua modem dimasukin langsung kedetek jaringanna, indikator led 2G/3G langsung berwarna orange. Wah berarti gak rusak dong, emang harus disetting dulu band-nya. Usut punya usut emang katanya modem ini defaultnya diset pake band US, jadi kalau dipake di luar harus diset dulu frekuensi band-nya.
Kemungkinan besar modem teman saya yang langsung bisa karena memang awalnya sudah disetup di windows.
Sayangnya di Sierra tidak menyertakan program serupa buat user Linux. Padahal mungkin cuman sekumpulan command AT saja (mungkiiin).

Karena belum yakin, setelah di setup dan terbukti jalan di Windows, saya matikan aplikasi 3G Watcher, radio di-off. Saya ganti colokin ke laptop saya (Ubuntu). Eh, malah gak nyala LED powernya, shimatta!. Coba colokin lagi ke Windows, eh bisa. Sekarang saya coba cabut tanpa mematikan radio di program 3G watcher-nya. Dipasang lagi di Linux, dan tralalala,LED power nyala begitu pula dengan LED 3G-nya. Yattaa!!
Jadi kesimpulannya fungsi untuk search sinyal di modem bisa dimatikan, dan kalau di Linux sebenarnya bisa menghidupkan kembali fungsi search sinyal radio itu dengan menambahkan command AT+CFUN=1 (tambahkan di wvdial atau settingan KPPP). Tapi biar gak ribet ya udah saya biarkan saja radio-nya on terus (dari Windows tidak dimatikan)

Akhirnya saya sadar bahwa saya kurang teliti baca Knowledge Base Sierra, karena ternyata ada disana disebutkan bahwa radio modem bisa dalam kondisi Off, dan harus dihidupkan ^_^.

Begitulah, akhirnya modem tidak jadi ditukar. Saya pun tidak jadi menginstall Windows lagi ^_^.
Sangat disayangkan Sierra tidak menyertakan program sejenis 3G Watcher ataupun InternationalNetworkSelection untuk para pengguna Linux. Kalau driver-nya sih memang disediakan, walaupun katanya unsupported, hiks, diskriminasi T_T
Berikut hasil test speedtest dengan modem, masih stuck di 3G sih, kayaknya memang daerah kosan saya (Slipi Jaya) tidak ke-cover jaringan HSDPA Telkomsel.

speedtest flash

Tips:
Eject (safely remove) PCMCIA di Linux:

$ sudo pccardctl eject

Kalau mau aktifkan lagi (pcmcia masih terpasang):

$ sudo pccardctl insert

HSDPA anyone?

October 9, 2007 | Posted in Rants, Linux and OSS

flash 3G only euy?

Ada yang tinggal sekitar belakang Slipi Jaya? Anggrek Nely? Daerah itu kecover HSDPA operator mana ya? Sinyal 3G Telkomsel, Indosat sama XL klo dicek di HP sih kuat semua, cuman gak tau nih klo HSDPA. Peta coverage yang ada di situs opertor itu uptodate gak sih?

Penasaran saja. Saya pake modem PCMCIA Sierra Wireless Aircard 875 di Ubuntu Feisty. Modem langsung terdeteksi dengan baik dengan modul sierra. Untuk lebih meyakinkan saya upgrade modul sierra ke versi 1.0.6 (bawaanFeisty versi 1.0.5).
Tapi klo download pake Telkomsel Flash maksimal cuman dapet 48 KBps (384 kbps). Modem sudah support HSDPA sampe 7.2 Mbps (heheh operator mana yang bisa sampe segitu, ngaco).
Pernah coba pake Mentari (Indosat 3G) juga cuman dapet sekitar segitu. Denger-denger sih kalau Mentari atau IM3 emang dilimit walaupun ke-cover HSDPA.

Bagi yang pake Linux (khususnya Ubuntu) buat Sierra 875 ini apakah memiliki masalah seperti saya berikut ini?

  • Deteksi sinyal GSM/UMTS/HSDPA lambat, led modem cuman nyala di bagian power. Kadang mesti dipancing dulu pake minicom. Baru led 3G-nya oranye, abis gitu baru bisa di wvdial dan led 3G jadi biru.
  • Kalau ganti simcard (baik operator yang sama maupun berbeda) susah mau konek lagi, mesti restart beberapa kali baru bisa detect jaringan baru (led 3G jadi orange)
  • Wvdial tidak dapat menemukan remote IP kemudian dia set default ke 10.64.64.64. Saya blom tau ini ngaruh gak sama kecepatan, secara kalaupun host 10.0.64.64 ini dihapus di tabel routing gak ada masalah, tetep terkoneksi (default route tetep ke ppp0)

Saya curiga karena modemnya sudah upgrade firmware ke 7.2 Mbps sih, soalnya dulu pernah nyoba punya temen yang masih 3.6 Mbps lancar aja tuh. Di Linux gak belum ada program semacam 3G Watcher sih ya. Katanya kalau yang pake Windows mesti pake program tersebut.

Walaupun demikian, kalau sudah bisa dial dan terkoneksi sih stabil, gak aneh-aneh.
Kalau ada success story user Linux yang bisa dapetin full speed-nya modem sierra 875 ini bagi-bagi info dong.

PS:
Oh iya berikut ini query status modem via minicom

AT!GSTATUS?
!GSTATUS:
Current Time:  3955             Temperature: 45
Bootup Time:   0                Mode:        ONLINE
System mode:   WCDMA            PS state:    Attached
WCDMA band:    IMT2000          GSM band:    GSM900
WCDMA channel: 10663            GSM channel: 1
GMM (PS) state:REGISTERED       NORMAL SERVICE
MM (CS) state: IDLE             NORMAL SERVICE 
	
WCDMA L1 State:L1M_PCH_SLEEP    RRC State:   DISCONNECTED
RX level (dBm):-67

Setting wvdial.conf Telkomsel Flash sama Mentari (Indosat 3G).
Ada yang perlu ditambahin gak biar jadi kenceng?

[Dialer FLASH]
Init1 = ATZ
Init2 = ATQ0 V1 E1 S0=0 &C1 &D2 +FCLASS=0
Init3 = AT+CGDCONT=1,\"IP\",\"flash\"
Phone = *99#
New PPPD = yes
Modem Type = Analog Modem
Stupid Mode = 1
Baud = 460800
Auto DNS = 1
Modem = /dev/ttyUSB0
ISDN = 0
Auto Reconnect = on
	
[Dialer INDOSAT3G]
Init1 = ATZ
Init2 = ATQ0 V1 E1 S0=0 &C1 &D2 +FCLASS=0
Init3 = AT+CGDCONT=1,\"IP\",\"indosatgprs\"
Password = indosat@durasi
Phone = *99#
New PPPD = yes
Modem Type = USB Modem
Stupid Mode = 1
Baud = 460800
Auto DNS = 1
Modem = /dev/ttyUSB0
ISDN = 0
Username = indosat@durasi
Auto Reconnect = on

Demikian curhatnya, penasaran pengen bisa donlot sampai ratusan KBps T_T

GNU Screen

September 23, 2007 | Posted in Rants, Linux and OSS

Salah satu command line favorit saya ketika login/SSH ke mesin Linux atau sejenisnya adalah screen (GNU Screen). Dengan command ini saya dapat menjalankan beberapa program terminal sekaligus dan membiarkannya tetap berjalan walaupun sesi SSH saya sudah putus. Dulu (duluuu sekali, ketika akses ke kampus masih tersedia…), command yang paling sering dijalankan adalah:

$ screen btlaunchmanycurses

Kemudian tekan Ctrl A+ D dan secara tidak bertanggung jawab menelantarkan program tersebut kelayapan malam-malam ^^.
Kemudian ketika suatu waktu ingin melongok kembali sesi screen tersebut tinggal ketik

$ screen -r

Namun sekarang sih nggak dipake buat gituan lagi. Tools ini biasanya saya pakai ketika hendak update server, mesti kompile program gede dan lama (misal ISPConfig) . Biasanya tinggal ketik:

# screen ./setup

Kemudian biarkan screen tersebut berjalan di background (detached dengan Ctrl A+D). Saya pun bisa logout dulu. Ketika login balik tinggal re-attach screen tersebut dan meneruskan pekerjaan. Simple dan hemat koneksi, apalagi kalau SSH via gprs seperti saya. Mau yang time-based ataupun paket based bisa ditolong dengan screen ini (gak perlu download tampilan output screen ketika kompile program).

Tentu saja tidak hanya satu sesi screen yang bisa dijalankan. Ketika berada di dalam salah satu screen kita bisa tekan Ctrl A+C untuk memulai sesi screen yang baru, dan yang lama tetap berjalan. Sesi screen otomatis berakhir ketika program yang kita jalankan selesai, atau jika kita meng-attach sebuah shell (misal Bash) kedalam screen, tinggal ketikkan exit untuk keluar.
Untuk melihat sesi screen yang sedang berjalan ketik:

$ screen -list

Demikianlah, untuk lebih jelasnya:

man screen
^^

Tautan:
Command line multitasking with screen
The Power of ’screen’ revisited

Next Page »