Minggu seru, dari EJU hingga Bon Odori

November 10, 2008 | Posted in Rants, O-Stuffs

EJU, first attempt…
Ichiban, eh, Matsuri! Yah, tujuannya sih menggapai cita meraih asa, mewujudkan mimpi yang tak terbeli. Bersama beberapa abege berjuang menaklukan ujian masuk universitas di Jepun ini. Lah abegeh? Iya emang sebenarnya kan EJU ini kayak SPMB aja. Trus ngapain ikut-ikutan? Lah kan sy belom pernah ikutan SPMB, apa salahnya nyoba…Boong, karena kebutuhan sebenernya. Gara-gara masih ada insitusi yang mengandalkan IPK sebagai saringan pertama. Apa daya, saya sebagai member resmi PMDK, pastilah tak akan lolos, kecuali lulus EJU dengan nilai lumayan.
EJU pertama buat saya, mudah-mudahan sih gak perlu lagi :D . Tapi setelah kemarin mengalami sendiri nampaknya bakal ada babak percobaan berikutnya. (more…)

Dorama atau Jmovie tentang Backpacker?

June 1, 2008 | Posted in Rants, O-Stuffs

yuuki - backpacker
Tidak sengaja nemu file .avi ini waktu lagi bosen, nyari-nyari film yang mau ditonton di tumpukan dvd hasil barter. Yuuki ユウキ judulnya. Entah kenapa ditulis dalam katakana. Padahal kata ini aseli dari Jepang yang berarti courage 勇気, orang yang diceritakan sebagai Yuuki ini pun aseli Jepang.

(more…)

Da Di Du De Do

May 29, 2008 | Posted in Rants, O-Stuffs, Nihongo

Hahaha di bus kepikiran terus habis test Kana tadi. Test gabungan Hiragana sama Katakana. Ada soal, gampang sebenernya, disuruh nulis ‘Indonesia’ dalam Katakana, harusnya kayak gini: インネシア. Tapi dengan ribetnya saya gak inget sama sekali klo ada ト (To) yang bisa diberi tengteng jadi ド (Do). Kepikiran terus sama tulisan Candy yang ditulis キャンディー. Jadinya Do-nya saya ganti jadi デォ (De +o). Entah jadi apa tuh bacaannya :P . Padahal cuman Di yang diperlalkukan khusus karena memang tidak ada huruf Ti (pakenya Te+i: ティ), adanya Chi. Eh sama Du, karena tidak ada Tu (pakenya To+u: トゥ), jadinya Du ya Do+u ドゥ.

Entah kenapa kalau nulis saya suka belibet, kadang malah jadi bikin huruf sendiri. Secara garis besar dalam bayangan saya sudah terbentuk gambaran hurufnya. Tapi pas mau ditulis suka ragu ini sebeneranya garisnya miring kemana? Buntutnya ke kanan apa kiri? Jadi ya gitu seringnya improvisasi sendiri :P
Tapi beberapa teman les malah kebalikan, mereka lebih gampang/cepet nulis daripada baca katanya.

Ya tadi adalah pertemuan terakhir (#10) kelas bahasa Jepang yang saya ikuti. Karena masih elementary (dasar banget) jadi kayaknya mesti lanjut nih ke Beginner 1 (lah masih pemula juga). Tentunya setelah dapat kabar kalau test yang tadi dinyatakan lulus :D .
Amiiiin.

Oleh-oleh dari Gelar Jepang 2008

May 19, 2008 | Posted in Rants, O-Stuffs

matsuriHari Minggu kemarin jalan-jalan sendirian ke UI Depok, nonton sekalian hunting Gelar Jepang 2008. Dari stasiun Cawang hanya membayar Rp 1500 saja pake KRL ekonomi untuk sampai ke stasiun UI dengan melewati 6 stasiun dan waktu tempuh kurang dari setengah jam.
Nyampe sekitar jam 11-an dan langsung berbaur dengan keramaian sambil jepret sana sini. Agak siangan matahari makin terik.

Acaranya sendiri sebenarnya sudah mulai dari hari Jum’at tgl 16 dan berakhir hari Minggu tgl 18. Sayang saya hanya datang di hari terakhir saja, karena biasanya kalau ada cosplay dan band itu yang datang lebih rame. Padahal kalau dilihat dari susunan acaranya, hari-hari sebelumnya tampaknya menarik juga.
(more…)

Engrish, Katakana dan Flashcard

May 17, 2008 | Posted in Rants, O-Stuffs, Nihongo

Katakana flashcard Ini nih salahsatu yang bikin susah belajar bahasa Jepang. Kenapa mesti ada Katakana segala buat nulisin kata-kata serapan dari bahasa asing, kenapa gak pake Hiragana aja atau pake alfabet sekalian :D . Masih mending kalau huruf-hurufnya gak jauh beda sama Hiragana, ini mah beda banget. Yang paling mirip cuman リ(ri) dan ヘ(he), yang agak mirip キ(ki), カ(ka) dan ヤ(ya). Yang lainnya sama sekali beda, yang ada malah mirip antar Katakana nya, cuman beda arah penulisan dan kemiringan aja seperti ツ dan シ (tsu dan shi), ソ dan ン (so dan n) nambah puyeng deh x_x.

Tapi belajar Katakana seru juga, kadang bisa ketawa-ketiwi geli saking lucunya. Katakana itu kan digunakan buat menuliskan kata-kata dari bahasa asing (mostly English), termasuk nama negara dan nama orang bukan Jepang. Kata-kata serapan asing itu ditulis bukan berasal dari cara asli penulisan alfabetnya, melainkan dari cara orang Jepang melafalkannya. Mungkin mirip ketika di Kualalumpur saya melihat penulisan Stesyen yang ternyata dari kata Station.
Kita tahu lidah orang Jepang susah melafalkan huruf L (jadi R), terus dia juga nggak bisa pake huruf mati, mesti ada vowelnya.
Contoh beberapa kata serapan asing yang ditulisa dalam Katakana.

ネクタイ (Nekutai) => Necktie
ハンサム (Hansamu) => Handsome
トイレ (Toire) => Toilet
クレヨン (Kureyon) => Crayon
アジア (Ajia) => Asia
サーター (Saa taa) セーター (See taa) => apa coba??? Sweater ! Kenapa gak jadi suitaa??!!

Jika nama Asep ditulis dalam Katakana maka akan menjadi アセップ (Aseppu).
Oh ya aturan tenten, maru, ya, yu, yo dan tsu kecil untuk mendoublekan konsonan sama dengan Hiragana. Untuk suku kata yang panjang seperti sweater diatas, digunakan strip, bukan vokalnya seperti Hiragana.

Kalau di tempat kursus sih biasanya pake kartu-kartu bergambar, kemudian ada tulisan alfabet English dan katakana-nya. Biasanya saya tebak-tebak aja cara bacanya orang Jepang gimana, baru deh cocokin Katakana-nya, soalnya belum hafal. Untuk menghafal sendiri saya print lagi flashcard Katakana, kali ini yang dibaliknya bukan alfabet lagi, tapi sudah Hiragana. Kan Hiragana udah lumayan hafal, jadi sekaligus memperlancar lah.
Untungnya ada game katakana practice juga, buat latihan.
Ganbarimasu!

Tenten, Maru, Ya, Yu, Yo

May 14, 2008 | Posted in Rants, O-Stuffs, Nihongo

Masih tentang Hiragana nih, biar gak lupa. Soalnya sekarang udah mulai belajar Katakana juga.
Terima kasih kepada Tenten (baca: teng teng) dan Maru, karenanya lah huruf Hiragana yang sebenarnya mesti bener-bener dihafal itu ‘hanya’ 46 huruf saja. Tenten itu berupa 2 garis pendek di sekitar kanan atas huruf hiragana. Ketika diterapkan ke hiragana yang berkonsonan K dibaca G, ke huruf T menjadi D, ke huruf S menjadi Z, dan ke H menjadi B. Sedangkan Maru yang berwujud bulatan kecil hanya diterapkan ke huruf H sehingga dibaca P.

Contoh penggunaan tenten:
こ (ko) => ご (go)
さ (sa) => ざ (za)
て (te) => で (de)
ひ (hi) => び (bi)

Maru hanya dipakai untuk hiragana berkonsonan H dan menjadi dibaca P, contoh:
ひ (hi) => ぴ (pi)

Ya yu yo kecil (ゃ ゅ ょ) ditambahkan ke huruf yang bervowel i, seperti Ki(き), Bi(び), Ri(り) dsb untuk membentuk bunyi seperti Kya, Byo, Ryu dsb. Bedanya dengan ya yu yo sebagai huruf mandiri, adalah ukurannya lebih kecil dan dekat dengan huruf pendampingnya.
Contoh:
きゃ (ki + ya => kya)
びょ (bi + yo => byo)
りゅ (ri + yu => ryu)

Selain itu ada juga tsu kecil (っ) yang dipakai untuk medouble-kan atau memberikan tekanan pada konsonan setelahnya. Mirip-mirip sama tasydid lah ^_^. Misal pada kata きっぷ (Kippu = karcis/tiket) bedakan dengan きつぷ (Ki tsu pu = gak tau deh artinya). Atau あさって (Asatte = Lusa), bedakan dengan あさつて (A sa tsu te).
Hanya huruf-huruf berkonsonan T, S, P dan K saja yang bisa memakai tsu kecil ini.

Demikian sekedarnya, sebagai pengingat saja. Masih banyak yang harus dipelajarin, tapi jadi tambah semangat.
Betulkan saya jika saya salah (cmiiw?)

Mengingat Hiragana

May 6, 2008 | Posted in Rants, O-Stuffs, Nihongo

Lagi giat-giatnya nih mencoba menghafal deretan huruf Hiragana. Padahal mah baru Hiragana, belom Katakana, apalagi Kanji, tapi kok rada-rada susah ngapalinnya.Tanda-tanda penuaan udah mulai nampak nih, susah ingat, gampang lupa, banyak pikiran :D .
Enaknya belajar bareng di tempat kursus adalah motivasi saya lebih kuat, kan malu juga kalau pas ditanya-tanya, yang lain udah pada lancar, eh saya masih bengong. Jadi mau gak mau musti cepet hafal.

Untuk membantu mengingat, saya print Hiragana Flashcard, bulak-balik. Satu sisi huruf Hiragana-nya, sisi belakangnya Romaji-nya. Ukurannya kecil jadi bisa dimasukin saku dan dilihat-lihat waktu bengong di bus atau nongkrong di toilet.

Hasilnya? Belum lancar-lancar amat sih, saya masih perlu waktu beberapa detik untuk bisa mengenal suatu huruf. Untuk latihan, di internet banyak bertebaran games-games kecil untuk mengingat huruf Jepang ini. Diantaranya adalah Hiragana Practice dan Kanaquiz.
Hiragana Practice

Walaupun pake mikir dulu, saya masih bisa mencocokan huruf Hiragana dengan Romaji-nya. Yang susah sebenarnya adalah kalau dibalik. Dikasih Romaji, kemudian disuruh nulis Hiragana-nya, nah kalau itu saya masih kebulak-balik. Belum lagi urutan nulis garis-garisnya ternyata mesti bener.

Begitulah laporan perkembangan kursus Jepang saya sampai 3x pertemuan, nanti malem udah mulai ada test :D .
Do’akan saya…

Kembali sekolah

April 23, 2008 | Posted in Rants, O-Stuffs, Nihongo

image from jccindonesia.com
Sebelumnya memang saya pernah berniat belajar bahasa Jepang. Maksudnya belajar yang bener, formal di sebuah tempat kursus, bukan cuman lewat internet, dorama, Momusu sama anime, biar lebih terarah dan semangat. Akhirnya niat itu terlaksana juga. Kemarin malam pertama kali ikut kelas bahasa Jepang di JCC Indonesia, daerah Kebayoran Baru, deket Blok M. Dari kantor saya di Slipi enak sih tinggal naek Patas AC 34 ke Blok M Rp 3000, lanjut pake bajaj 10 menitan ke Jl Cipaku 2 Rp 5000 (kayaknya kalo negonya bisa, 3000 dapet tuh, deket soalnya). Kenapa milih JCC karena selain kelas Bahasa Jepang, ada juga kelas bahasa Indonesia buat orang Jepang. Jadi diharapkan nantinya ada interaksi secara langsung antar peserta. Memang JCC ini katanya didirikan oleh ibu-ibu Jepang yang tinggal di Indonesia.

Biaya kursus-nya sendiri lumayan (bisa lumayan mahal, atau lumayan murah, relatif lah), untuk kelas saya yang Elementary banget itu total Rp 510rb, sudah termasuk buku dan dikasih tas :D . Level elementary ini 10x pertemuan, dua kali seminggu, saya pilihnya Senen Selasa dan Kamis jam 18:30 sampai 20:00. Satu kelas maksimal 9 orang, minimal 6 orang. Kelas saya sendiri 8 orang yang kemaren datang.
Kesan pertama hmmm, sepertinya menyenangkan ya, baru aisatsu-aisatsu-an sama pengenalan Hiragana sih. Suasana tempat kursusnya cozy, kayak rumahan gitu deh. Ruang tunggunya luas, merangkap perpustakaan, nyaman, pake sofa, bisa pesen makan/minum sambil baca manga atau majalah, dalam tulisan Jepang. Sayup-sayup terdengar Konayuki-nya Remioromen sama Shirushi-nya Mr. Children.

Mudah-mudahan sih kursusnya bisa terus lanjut ke level berikutnya. Tentunya kalau saya sanggup membiayainya. Cita-citanya sih pengen bisa ikutan EJU akhir tahun ini. Kalau gak bisa ya minimal bisa buat modal ikut test kursus di JPF yang katanya murah tapi hanya tersedia level intermediate-advance, jadi pake test dulu.
Saya ngomongnya sekarang pake istilah cita-cita ya, gak mimpi lagi, hehe. Soalnya udah tua, jadi musti pake tengat waktu nih, tetapkan deadline. Target belajar kelas Elementary ini adalah hafal cara tulis dan baca Hiragana serta Katakana.

Begitulah ceritanya. Kembali belajar, mengerjakan PR, memang menyenangkan, hehehe, baru pertama sih, tauk deh ntar-ntar.

PS: gambar dicomot dari situs JCCIndonesia.com yang sayangnya infonya gak uptodate info yg uptodate masih dalam nihongo.

Gyaboo!! Nodame Special

January 19, 2008 | Posted in Rants, O-Stuffs

Capppeeee deeeehhh T_T
Cuman dapet link torrent yang satu episode-nya aja 1GB lebih hampir 2GB…

Buat yang gak sabaran…
Review Nodame Special in Europe 1
Review Nodame Special in Europe 2

Nodame donwload link and resources

Sinetron Badminton

January 6, 2008 | Posted in Rants, O-Stuffs

Taufik: Ore wa zettai Katsu!!Dulu waktu Tennipuri (Prince of Tennis) lagi booming saya sempet mikir, ada gak yah manga tentang badminton? Secara badminton kan sama aja kaya tennis, gak sepopuler Baseball di Jepang sana.
Sekarang waktu lagi nonton dorama H2 (Kimi to Itahabi), live action dari salah satu manga baseball karya Adachi Mitsuru (karya lain: Touch juga dibikin live action movie-nya), saya sempat berkhayal juga… kenapa produser Indonesia gak mikir bikin sinetron tentang olahraga.

Saya kira akan menarik sekali kalau perjuangan atlet-atlet badminton Indonesia dituangkan dalam bentuk film/sinetron. Pernah kan nonton final pertandingan badminton internasional kayak piala Piala Sudirman, Thomas atauUber? Gimana gak seru coba. Saya yang nonton cuman di TV aja suka deg-degan sendiri, walaupun gak ikut-ikutan teriak-teriak tapi ikut bahagia kalau mereka menang, atau ikut kesal kalau misalkan smash-nya out atau permainan net yang gak nyampe mulu.

Tentu saja kalau langsung pertandingan final yang dibikin cerita sih gak seru, kalau itu mah mending nonton siaran langsung aja. Yang bisa dibikin cerita justru proses menuju final itu. Taufik Hidayat, Susi Susanti atau legenda badminton yang lainnya kan gak ujug-ujug alias tiba-tiba jago kan. Pasti dulunya sama aja newbie, latihan dulu, dimulai dari mimpi-mimpi kecil, ingin tampil di kejuaraan antar sekolah atau cuman pengen bisa menang dari temen yang lebih jago. Mungkin dulu tujuannya gak semulia mengharumkan nama bangsa, mungkin saja hanya ingin melunasi utang orangtua dengan uang hadiah kejuaraan, atau hanya ingin mempersembahkan kemenangan pada orang yang dikasihi. Ehmm co cweet..

Masih kurang menarik? Tinggal tambahin bumbu-bumbu cinta. Jangan salah, dorama Jepang pun menarik karena ada kisah romantisnya. Di H2 misalnya ada cinta segitiga, eh lebih kompleks jadi segiempat. Ada juga cerita mengharu biru tentang keluarga dan indahnya persahabatan. Tapi ingat itu semua hanya bumbu, fitur utamanya tetap, perjuangan menuju Koshien (ini ibarat tempat keramat buat dunia baseball SMU di Jepang). Walaupun setelah sampai Koshien kalah ya gak apa-apa. Gak harus selalu menang kan? Orang kalau gak pernah kalah, gak akan belajar.

Kalau soal cerita romantis sebagai bumbu saya kira produser Indonesia lebih gape, secara sinetron sekarang kan temanya itu mulu, hehe. Kalau di bidang badminton kita mungkin kisah Susi-Alan bisa dijadikan inspirasi, siapa tau kisah mereka sebenarnya lebih romantis dan njelimet daripada Hiro-Haruka-Hikari-Hideo, hihihi.

Tentu saja untuk mewujudkan itu diperlukan aktor/aktris yang selain cakep/cute juga harus bisa maen badminton. Jangan sampai cerita tentang jago badminton tapi standar mainnya kayak orang tepakan di jalan. Ya gak perlu bisa beneran sih, cukup bisa bikin penonton percaya aja kalau mereka maen beneran.

Itu aja lamunan Minggu ini, hehehe. Masih 2 episode akhir nih namatin H2…
Tentang manga badminton, ternyata emang ada!!! Judulnya Yamato no hane.
Yamato no Hane cover manga
Terdiri dari 4 volume. Saya baru download satu chapter awal, sepertinya cukup menarik. Live action-nya sendiri belum pernah denger, mungkin Indonesia mau bikin duluan?? Hahaha, semoga…

Next Page »